Bagaimana Mendiagnosis Penyakit Mental pada Anak ?

wp-1465719870385.jpgBagaimana Mendiagnosis Penyakit Mental pada Anak ?

Penelitian menunjukkan kira-kira satu dari setiap lima anak memiliki penyakit jiwa yang dapat didiagnosis. Anak-anak yang sedang berkembang secara mental dan fisik, dan perilaku memang mungkin sulit untuk dianalisis dan dievaluasi perkembangan mentalnya. Tindakan seperti kecemasan, kemarahan, dan rasa malu bisa menjadi bagian perkembangan perkembangan atau kondisi sementara daripada penyakit. Ketika perilaku bermasalah terjadi selama periode waktu tertentu atau dengan cara yang mengganggu kehidupan sehari-hari, gejala-gejala tersebut dianggap sebagai gejala kelainan.

Diagnosis biasanya dimulai dengan seorang dokter medis yang membutuhkan riwayat panjang dan memeriksa anak untuk menyingkirkan alasan fisik karena kesulitannya. Tes laboratorium juga bisa dilakukan untuk menguji efek samping obat-obatan, alergi, atau kondisi lain yang bisa menimbulkan gejala.

Jika tidak ada alasan medis untuk gangguan perilaku tersebut, dokter merujuk anak tersebut kepada seorang psikolog atau psikiater yang merawat anak-anak dan remaja. Seorang psikolog dilatih untuk mengevaluasi dan mendiagnosis penyakit jiwa namun biasanya memperlakukannya melalui konseling atau terapi perilaku. Seorang psikiater adalah seorang dokter medis yang dapat mendiagnosa penyakit jiwa dan menulis resep untuk pengobatan. Seringkali, keduanya akan bekerja sama untuk memberikan kombinasi antara konseling dan pengobatan. Terapi lain, seperti musik atau seni, dapat ditambahkan ke perawatan konvensional.

Diagnosis awal didasarkan pada laporan perilaku dari orang tua, pengasuh, dan guru untuk memahami bagaimana fungsi anak dalam situasi yang berbeda. Seringkali seorang anak akan memiliki kombinasi dua atau lebih perilaku, seperti kecemasan dan mengompol.

Kelainan berikut sering terjadi pada masa kanak-kanak:

  • Kecemasan
  • Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)
  • Mengonsumsi masalah
  • Masalah kamar mandi
  • Perasaan kesedihan, atau kemurungan
  • Perilaku mengganggu (Disruptive behavior)
  • Gangguan belajar, seperti disleksia
  • Gerakan tidak disengaja, atau tics
  • Skizofrenia, atau Gangguan pikiran dan perasaan

Beberapa kelainan dimulai pada masa kanak-kanak dan berlanjut sampai masa remaja dan dewasa. Penyakit mental biasanya disebabkan oleh kombinasi faktor yang terbagi dalam empat kategori besar: lingkungan, genetik, biologis, dan psikologis. Misalnya, anak yang memiliki predisposisi genetik dapat mengalami kelainan saat terkena racun atau pelecehan fisik.

Meski banyak orang tua ingin menghindari pengobatan atau stigma diagnosis mental, prognosisnya lebih cerah dengan perawatan yang tepat. Jika anak tidak menerima perawatan yang diperlukan, penyakitnya mungkin berlanjut sampai dewasa, menimbulkan risiko tinggi untuk masalah seperti penyalahgunaan obat, narkoba, perilaku antisosial, atau bunuh diri. Bila diberi diagnosis dan pengobatan yang benar,

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s